Latest Post
MAN 3 Padang (Lubuk Minturun)-Sekitar 30 siswa dan siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang, mengikuti pelatihan jurnalistik dalam Program Madrasah Pintar Menuli, yang dilaksanakan di ruangan belajar, Sabtu, 8 Agustus 2015.
Program Madrasah Pintar Menulis merupakan kegiatan ekrakurikuler seluruh madrasah yang digagas Kakanwil Kemenag Sumatera Barat, Drs Salman K Memet, MM dan Kakanmenag Padang, Drs Jaferi, MM.
Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang, Afrizal, SAg menyampaikan ucapatan terima kasih kepada tiga pembicara yang telah bersedia berbagi pengalaman dengan siswa dan siswi MAN 3, tentang bagaimana cara menulis berita.
Menurut Afrizal, banyak orang hebat karena diberitakan oleh berbagai media, karena media punya peran menyebar luaskan informasi. "Saya meminta kepada semua peserta untuk menyalin semua ilmu dari nara sumber," katanya.
Kemudian, kata Afirizal, pelatihan jurnalistik dalam Program Madrasah Pintar Menulis juga dimaksudkan untuk mengelola portal berita atau webset MAN 3. "Kedepan, setiap berita tentang MAN 3 Padang , yang siswa siswi tulis sudah bisa dibaca oleh masyarakat, baik di Padang maupun di selueuh dunia yang melalui jaringan internet," katanya.
Acara pembukaan dimulai dengan pembacaan kitab suci al-Quran yang dilantunkan oleh Refita Aulina siswa kelas XI PK. Kemudian dilengkapi dengan acara pembacaan doa oleh Prayogi Satriawan. (Ndu)
Organisasi Siswa Intra Sekolah (disingkat OSIS) adalah suatu organisasi yang berada di tingkat sekolah di Indonesia yang dimulai dari Sekolah Menengah yaitu Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). OSIS diurus dan dikelola oleh murid-murid yang terpilih untuk menjadi pengurus OSIS. Biasanya organisasi ini memiliki seorang pembimbing dari guru yang dipilih oleh pihak sekolah.
Anggota OSIS adalah seluruh siswa yang berada pada satu sekolah tempat OSIS itu berada. Seluruh anggota OSIS berhak untuk memilih calonnya untuk kemudian menjadi pengurus OSIS.
OLEH : WAHYUNI INDRIYANI, S.PD.
A. Guru dan Undang-Undang
Pasal 1 pada Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa yang disebut sebagai Tenaga Kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Sedangkan Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
Berdasarkan definisi di atas jelas bahwa tenaga kependidikan memiliki lingkup “profesi” yang lebih luas, yang di dalamnya mencakup tenaga pendidik. Pustakawan, staf administrasi, staf pusat sumber belajar, kepala sekolah adalah kelompok “profesi” yang masuk dalam kategori sebagai tenaga kependidikan. Sementara mereka yang disebut pendidik adalah orang-orang yang dalam melaksanakan tugasnya akan berhadapan dan berinteraksi langsung dengan para peserta didiknya dalam suatu proses yang sistematis, terencana, dan bertujuan. Penggunaan istilah pendidik tentu disesuaikan dengan lingkup lingkungan tempat tugasnya masing-masing. Guru dan dosen, misalnya, adalah sebutan tenaga pendidik yang bekerja di sekolah dan perguruan tinggi.
Pasal 39 Undang-Undang yang sama menyatakan bahwa (1) Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan, dan (2) Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.
Sedangkan menurut Undang-undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Mencermati tugas yang digariskan oleh Undang-undang di atas khususnya untuk pendidik dan tenaga kependidikan di satuan pendidikan sekolah, jelas bahwa ujung dari pelaksanaan tugas adalah terjadinya suatu proses pembelajaran yang berhasil. Segala aktivitas yang dilakukan oleh para pendidik dan tenaga kependidikan harus mengarah pada keberhasilan pembelajaran yang dialami oleh para peserta didiknya. Dan juru kunci keberhasilan pembelajaran adalah para pendidik (guru). Dimana mereka harus mampu merancang dan melaksanakan proses pembelajaran dengan melibatkan berbagai komponen yang akan terlibat dalamnya. Sungguh merupakan suatu tugas yang tidak bisa dianggap mudah.
Semua pihak mengakui profesi guru merupakan profesi mulia. Guru berperan penting dalam mencerdaskan generasi masa depan bangsa yang nantinya akan meneruskan perjuangan bangsa. Karena itu tidak heran kalau ada tuntutan akan kompetensi yang jelas dan tegas yang dipersyaratkan bagi para pendidik, semata-mata agar mereka mampu melaksanakan tugasnya dengan baik.
Pasal-pasal dalam PP No. 19 tahun 2005 yang mengatur tentang pendidikan adalah pasal 28 s.d 34. Dimana pendidik (guru) harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi akademik yang dimaksud dalam pernyataan tersebut adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
B. Hubungan Guru dan Murid Pada Berbagai Era
Sekitar tahun 1950-an murid sangat takut dan patuh pada guru. Dimana guru sangat disiplin dan galak. Jika saat ditanya murid tidak bisa menjawab maka murid disuruh maju ke depan kelas. Jika sudah diterangkan dan masih tidak bisa, maka murid diminta berdiri di depan kelas dengan mengangkat satu kaki. Murid pada era ini sangat takut jika tidak mengerjakan pe er (pekerjaan rumah). Mereka lebih baik tidak masuk sekolah daripada harus dihukum oleh guru.
Tahun 1970-an masih tidak jauh berbeda. Meski hubungan guru dengan murid pada era ini tidaklah ‘seangker’ pada era sebelumnya. Hal mengenai kepatuhan masih belum berubah. Hal menarik diera ini adalah keberadaan televisi yang menunjang pendidikan. Meski kondisi televisi saat itu masih hitam putih dan programnya terbatas, murid justru didorong untuk menonton televisi. Ada acara yang wajib ditonton. Murid harus mencatat siaran berita. Begitupun satu acara bernama kelompencapir (kelompok pendengar,pembaca dan pirsawan) haruslah ditonton oleh murid untuk dibahas di sekolah.
Di tahun 1980-an murid wajib membaca koran dan menonton siaran televisi. Harus diakui, bahwa sumber informasi hanya dari kedua media itu. Siaran radio belumlah seperti sekarang. Guru tidaklah segalak era sebelumnya, tapi masih disegani dan dihormati murid. Lagipula beban pelajaran murid belum sebanyak sekarang. Contohnya, murid kelas 1 SD hanya ditekankan belajar membaca dan menulis.
Tahun 2005 hingga sekarang hubungan guru dengan murid lebih dekat dan akrab. Sosok guru tidak lagi ditakuti. Dengan teknologi komunikasi yang sudah maju murid dapat menonton televisi dengan banyak program tontonan, bahkan tak jarang murid menonton tayangan yang bukan untuk anak. Beban belajar murid pun mulai banyak. Contohnya kelas 1 SD sekarang ada sembilan mata pelajaran yang wajib, yang di era sebelumnya baru diberikan setelah kelas 3 SD. Sudah bukan jadi rahasia lagi, ketika banyak orang suka mencibir kelakuan murid yang tidak pada tempatnya. Mulai saja dengan menyebut mereka sulit diatur, nakal, suka membolos, tidak sopan, berani melawan, dan masih banyak lagi lainnya. Kelakuan murid makin beraneka ragam dan sikap mereka terhadap guru pun juga makin bervariasi. Bisa positif, namun bisa juga sebaliknya.
C. Persoalan Guru Masa Kini
Dari kacamata orang tua saat ini mengkhawatirkan anak mereka yang memiliki beban pelajaran yang dirasa makin berat, sementara mereka bekerja, minim waktu besama anak. Sehingga kerepotan baru tercipta : siapa yang mendampingi anak belajar di rumah?
Dari kacamata guru sebagai pendidik lain masalahnya. Murid sekarang sulit dinasihati. Murid tidak cukup dinasihati sekati atau dua kali. Sehingga guru mau tidak mau harus cerewet. Hasimah, M.Pd, praktisi pendidikan, mengemukakan bahwa murid sekarang terlalu dimanja dirumahnya. Ini karena ketiadaan orang tuanya di rumah, sehari-hari anak bersama pembantu dan baby sitter. Murid sekarang lebih sulit untuk diajak tertib. Mereka suka bersuara keras, teriak-teriak, sehingga hal ini membuat guru harus mengeluarkan suara dan tenaga ekstra keras. Anak yang terbiasa dilayani di rumah, akibatnya menjadi sulit untuk mandiri. Di sekolah, guru haruslahmemandang sama kepada semua muridnya. Tidak peduli dia anak pejabat atau anak orang yang sangat kaya. Semua murid dituntut untuk mandiri.
Teknologi komunikasi yang canggih sekarang membuat hubungan guru dengan orangtua bisa dilakukan melalui telepon, handphone, SMS bahkan melalui media jejaring sosial seperti facebook, maupun melalui Blackberry Messenger (BBM) yang notabene 24 jam bisa dilakukan. Dahulu, murid harus mencatat dengan teliti tugas pe er mereka di buku tulis. Tapi sekarang, jika murid tidak mencatat pe er-nya, dengan mudah orang tua bisa menelepon guru. Saat ini sekitar 40% orang tua berkirim SMS atau BBM atau telepon untuk menanyakan kemajuan belajar anak sampai beberapa kali dalam seminggu. Dan 77% orang tua menanyakan pada guru tentang setiap nilai tes anak.
Panjangnya jam kerja orang tua mungkin bisa jadi penyebab yang membuat quality time orang tua dengan anak berkurang. Hal ini berpengaruh pada psikologi anak sekarang. Anak sudah bangun karena harus berangkat ke sekolah pagi-pagi sedangkan orang tuanya masih tidur. Anak sudah tidur, orang tuanya belum pulang. Sekali bertemu di rumah, orang tua marah-marah dan bentak-bentak pada anak karena anak jadi cengeng dan menuntut perhatian, sementara orang tua lelah dan mungkin stres karena pekerjaan. Sehingga banyak cerita ada anak yang di sekolah dalam kondisi marah dan uring-uringan dan pada akhirnya gurulah yang kerepotan.
Masalah pendidikan sebenarnya tidak hanya itu. Banyak orangtua karena kesibukannya kemudian menyerahkan seratus persen tanggung jawab pendidikan anak di tangan sekolah dan guru. Tanggung jawab pendidikan idealnya adalah fifty-fifty antara orang tua dan guru. Ini karena ada keterbatasan kapasitas guru untuk melihat perbedaan antar anak. Karena dalam satu kelas guru tidak hanya menangani satu murid saja.
Ada tantangan lain yang datang dari kondisi murid sekarang. Pertama, sebagai insan yang hidup di dunia digital. Karenanya digital life juga harus menjadi bagian dari sekolah. Bagi guru, mereka harus menguasai digital dan terbiasa menggunakan tool digital. Banyaknya tragedi-tragedi yang meruntuhkan sendi-sendi moral yang dicantumkan dalam media elektronik maupun cetak memerlukan kerja keras guru sebagai fungsi pendidik. Selain guru harus mampu membina murid-muridnya untuk lebih bisa bersifat protektif terhadap diri pribadi. Setiap guru dituntut mampu mengoperasikan dan memahami teknologi yang ada agar tercipta keselarasan komunikasi timbal balik antara siswa dan guru. Guru yang melek teknologi tak akan diremehkan oleh murid bahkan murid pun mau berkonsultasi tentang teknologi yang ada saat ini.
Kedua, murid harus berhadapan dengan orang-orang disekitarnya yang heterogen. Ada anak laki-laki dan anak perempuan, ada anak berkebutuhan khusus dan tidak. Untuk menangani anak berkebutuhan khusus tentu guru juga harus punya kemampuan khusus, tidak bisa disamakan dengan anak-anak pada umumnya.
Ketiga, murid menghadapi stimulasi yang banyak sekali dari lingkungannya. Hal ini membuat mereka lebih mudah bosan sulit berkonsentrasi. Untuk itu metode pengajaran guru harus lebih kreatif. Jika perlu, cara penyampaiannya harus sama serunya dengan tayangan televisi yang disukai murid. Karena itu saat ini murid diberi kepercayaan penuh untuk melakukakan kegiatan belajar, adanya keleluasaan untuk bertindak namun masih dalam koridor pembelajaran menurut adat kebiasaan dengan memperhatikan tertib damainya kehidupan. Di sinilah tugas guru yang paling berat bagaimana siswa diupayakan mengembangkan apa yang dimilikinya sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk dan disesuaikan dengan keadaannya masing-masing. Anak tidak lagi dipaksa melakukan sesuatu atau terus-terusan dituntun dari depan. Guru menyingkirkan segala apa yang merintangi jalan anak untuk maju. Bila anak tidak dapat menghindarkan diri dari bahaya yang mengancam keselamatannya, seorang guru akan turun membantu memecahkannya. Guru mendidik tidak lagi menggunakan kekerasan, paksaan, intimidasi seperti masa dulu. Sebab bila itu terjadi pada masa kini, anak bisa saja tertib namun ketertiban itu dapat menimbulkan kegelisahan atau menjauhkan ketentraman.
Keempat, murid dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya karena berbagai faktor. Mereka dijejali konsumerisme. Terpapat pornografi di usia yang sangat belia. Dijejali informasi yang semuanya belum tentu sesuai dengan masa tumbuh kembang mereka. Contoh yang cukup marak belakangan ini adalah ada siswa yang memanfaatkan produk teknologi untuk merekam adegan bercinta mereka layaknya pasangan suami istri, masih dengan seragam sekolahnya dan menyebarkannya dengan bangga. Penyebaran yang dilakukan pun tak hanya dalam satu media. Selain menyebarkannya antarhandphone, mereka juga mengunggahnya melalui internet. Pelakunya pun banyak yang berstatus pelajar (SLTP-SLTA). Bahkan ditemukan siswa SD yang memerkosa temannya yang masih TK gara-gara melihat tayangan film porno.
D. Profesionalisme Guru Masa Kini
Dengan tantangan murid sekarang yang jauh lebih besar itu, sekolah dihadapkan pada dua pilihan. Apakah sekolah akan berdiam diri dan guru hanya transfer ilmu saja ataukah mau menjadi sekolah yang dapat memenuhi kebutuhan murid-muridnya. Tantangan terberat untuk guru adalah bagaimana mereka dapat menjadi contoh. Karena menjadi seorang pendidik itu tidaklah mudah. Mengelola murid ibaratnya mengelola suatu perusahaan, karena yg di-manageadalah Human Resources, dan makin variatif kasus muridnya makin diuji managerial gurunya.
Hal ini dapat dipahami dengan memerhatikan beberapa prinsip pembelajaran inovatif, yaitu: (a) pembelajaran, bukan pengajaran; (b) guru sebagai fasilitator, bukan instruktur; (c) siswa sebagai subjek, bukan objek; (d) multimedia, bukan monomedia; (e) sentuhan manusiawi, bukan hewani; (f) pembelajaran induktif, bukan deduktif; (g) materi bermakna bagi siswa, bukan sekadar dihafal; (h) keterlibatan siswa partisipasif, bukan pasif.
Karena itu guru dalam ruang kelas ini harus bisa menjadi “pengatur” arus dan mampu menyiasati arus sehinggaoutput pekerjaan berdiri di depan kelas benar-benar bisa menghasilkan “benih-benih” yang bagus dan handal. Guru bisa berharap muridnya nanti cerdas, bermartabat dan nasionalis. Agar harapan itu terwujud, sebaiknya guru memiliki dan mampu mengelola tiga tingkat kecerdasan, yakni:
Karena itu guru dalam ruang kelas ini harus bisa menjadi “pengatur” arus dan mampu menyiasati arus sehinggaoutput pekerjaan berdiri di depan kelas benar-benar bisa menghasilkan “benih-benih” yang bagus dan handal. Guru bisa berharap muridnya nanti cerdas, bermartabat dan nasionalis. Agar harapan itu terwujud, sebaiknya guru memiliki dan mampu mengelola tiga tingkat kecerdasan, yakni:
- Kecerdasan Intelektual: guru dituntut profesional dengan latar belakang akademis yang sesuai aturan, kreatifitas tinggi, inovatif, punya semangat dan jiwa kewirausahaan;
- Kecerdasan Emosional: Guru harus mampu mengendalikan emosi dan stres. Tidak boleh mudah terbakar emosi, hilang arah, mudah kaget apalagi ringan tangan dan gampang melempar kata-kata kotor. Sebaliknya, harus murah senyum, berwibawa,mempunyai keteladanan tinggi. Murid segan terhadap guru; bukannya takut pada guru.
- Kecerdasan spiritual: guru harus mempunyai tingkat spiritualitas tinggi, beragama atau mempunyai kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan mengedepankan aktualisasi iman, tidak fanatik atau fundamentalis, tidak diskriminatif. Sebaliknya harus punya semangat dan jiwa melayani, murah hati, sabar, memperhatikan siswa yang lemah.
Guru saat ini layaknya teman bagi murid-muridnya. Guru adalah orang yang amat menyenangkan dan membanggakan bagi murid dan masyarakat sekelilingnya. Guru merupakan teladan bagi muridnya yang mampu menghidupkan nilai rasa yang tumbuh dan berkembang dalam diri anak. Kehadiran guru merupakan suatu kebanggaan. Kebanggaan yang didapat tidak hanya sebatas mata memandang, namun mampu menembus dinding teguh sekeras raga manusia sampai ke lubuk hatinya yang paling dalam.
Guru tidak harus menunggu dihormati murid lebih dulu. Ia harus mau mendahului menghormati murid. Jangan sampai sakit hati kalau dia tidak menerima sapaan hormat dari murid, walau kadang di hati juga terasa tidak nyaman.
E. Penutup
Tidak ada kata lain bagi guru, selain harus berbenah menyiapkan diri menghadapi semua kemungkinan yang terjadi sejalan dengan semakin beratnya tantangan guru di masa kini dan masa depan. Para guru harus berani merefleksi, introspeksi serta melakukan koreksi terhadap segala kelemahan dan kekurangan guru selama ini dalam menjalankan tugas profesinya sebagai guru. Diakui atau tidak, persoalan kompetensi guru yang rendah adalah sebuah realitas yang terjadi saat ini dalam dunia pendidikan kita.
Guru harus mampu dalam mengimbangi dan mengatasi dampak dari pemilikan alat-alat teknologi oleh muridnya, karena accessibility faktor guru yang rendah terhadap produk teknologi ini. Kemudian, kecepatan murid dalam menguasai teknologi dibandingkan kebanyakan guru juga membuat perubahan moralitas yang semakin complicated, mengubah paradigma kehidupan dan pola hubungan antara murid dengan guru.
Oleh : Anonimous
Dulu aku bodoh
Dulu aku sama sekali tak tahu apa-apa
Aku tak tahu cara baca tulis
Aku juga begitu bodoh untuk dapat menghitung
Dulu aku sama sekali tak tahu apa-apa
Aku tak tahu cara baca tulis
Aku juga begitu bodoh untuk dapat menghitung
Semuanya berubah saat aku mengenalmu
Kau yang seringkali kusepelkan dengan sabar membimbingku
Kau ajarkan aku baca tulis
Kau tularkan sebundel ilmu hitungan
Kau yang seringkali kusepelkan dengan sabar membimbingku
Kau ajarkan aku baca tulis
Kau tularkan sebundel ilmu hitungan
Kau begitu sabar
Kau begitu teliti dan cekatan mengajari dan membimbingku
Nggak jarang aku putus asa dan malas dalam belajar
Namun, kau mampu membuka gerbang semangatku kembali
Kau begitu teliti dan cekatan mengajari dan membimbingku
Nggak jarang aku putus asa dan malas dalam belajar
Namun, kau mampu membuka gerbang semangatku kembali
Aku tak tahu jika orang sepertimu tidak terlahir di dunia
Akan jadi apakah aku jika orang sepertimu tidak ada
Orang yang membuka jalan menuju masa depa
Orang pembuka gerbang dunia untukku
Akan jadi apakah aku jika orang sepertimu tidak ada
Orang yang membuka jalan menuju masa depa
Orang pembuka gerbang dunia untukku
SETETES EMBUN DI PADANG PASIR
Oleh : Anonimous
Oleh : Anonimous
Terima kasih tak terukur untukmu
Terima kasih tak terkira untukmu
Terima kasih sebesar-besarnya untukmu
Termia kasih sekali lagi untukmu
Terima kasih tak terkira untukmu
Terima kasih sebesar-besarnya untukmu
Termia kasih sekali lagi untukmu
Kau telah memberikan jalan menuju kehidupan yang lebih baik buatku
Kau memberikan pertolongan sebelum aku membutuhkannya
Kau seperti cahaya dalam ruangan hampa nan gelap
Kau seperti setetes embun di padang pasir
Kau memberikan pertolongan sebelum aku membutuhkannya
Kau seperti cahaya dalam ruangan hampa nan gelap
Kau seperti setetes embun di padang pasir
Terima kasih guruku
Terima kasih
Kau tak akan kulupakan
Jasamu akan abadi sepanjang hayat hidupku
Terima kasih
Kau tak akan kulupakan
Jasamu akan abadi sepanjang hayat hidupku
Sudah 3 bulan lamanya Boy selalu diganggu oleh penampakan? penampakan yang tidak jelas ketika dia melewati lorong sekolahnya. Tepatnya lorong panjang di depan kelas 12 IPA 3. Ia pikir itu hanya kerjaan teman-temannya yang suka usil dengannya. Boy selalu dicolek ketika ia sedang duduk di bangku depan kelas 12 IPA 3. Ia juga sering ditimpuk dengan kerikil ketika berjalan menyusuri lorong itu tepat di pukul 12.06 WIB. Memang aneh. Kenapa hanya pada waktu itu ia dilempari kerikil? Terkadang Boy juga sering menerima Bunga melati di dalam tasnya ketika ia memeriksa tasnya sepulang sekolah di rumahnya. Terkadang ia juga melihat jejak kaki di depan kelas itu ketika hari beranjak sore. Jejak kaki itu berwarna agak kemerahan seperti warna darah. Boy masih menganggap kalau itu adalah perbuatan temannya yang usil atau tidak suka dengannya.“Boy…” teriak Andi dari depan kelas
“Apa, ndi? Kayaknya penting benar manggil gue” jawab Boy curiga
“Lo tau nggak kalau nanti malam kita mau ada acara wisata malam sama anak? anak ekskul pramuka?” jawab Andi enggak mau kalah
“Enggak. Kok gue gak tau ya?” Jawab Boy sambil berpikir
“Lo sih. Taunya Cuma cewek doang. Hahaha” jawab Andi dengan bercanda
“Hahaha sok tahu, lo. Kaya dukun yang suka iklan di TV aja.” jawab Boy sambil bercanda
“Hahahaha. Jadi, lo mau ikut enggak?” Desak Andi kepada Boy
“Wah, gue mau ikut. Gue mau cari setan yang sering nyolekin gue kalau gue lagi duduk di depan kelas 12 IPA 3” Jawab Boy dengan Semangat
“Hahaha setan? Hari gini masih percaya setan. Ada-ada aja lu. Ya udah nanti malam jam 20.00 WIB di sekolah yaa.” Jawab Andi yang masih menganggap jawaban Boy adalah lelucon.
Pukul 20.00 WIB di depan sekolah sudah banyak siswa dan siswi yang mengikuti wisata malam ekskul pramuka. Mereka sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Begitu pula Boy yang sudah sejak siang tidak sabaran untuk cepat-cepat mengikuti ini. kegiatan ini dilakukan untuk memperkenalkan anggota ekskul pramuka dengan yang lainnya. Acara baru dimulai ketika pukul 20.30 WIB dengan pembagian kelompok yang sudah diatur oleh tim panitia.
Boy mendapat kelompok 2. Itu tandanya ia akan berjalan mengelilingi sekolah bersama teman-teman kelompok 2 setelah kelompok 1 sudah pergi jauh dari tempat berkumpul. teman-teman Boy ada yang sudah merasa ketakutan. Mereka adalah para siswi.
“Kalau memang takut lebih baik kalian pada bobok cantik aja di rumah. Hahahha” sindir Boy kepada siswi yang ketakutan
“Sombong banget lu jadi cowok” jawab Mita dengan sinis
“Sudah-sudah jangan ribut. Sekarang kelompok 2 silahkan jalan” potong ketua pelaksana kegiatan wisata malam
Boy dengan teman-teman sekelompoknya pun pergi meninggalkan Mita, dan lain lain. Mereka hanya dibekali 3 buah lilin di sepanjang perjalanan. Karena memang lampu di sekolah sengaja dimatikan. Agar suasana mendukung dalam kegiatan ini.
Ketika ingin menuju lorong di depan kelas 12 IPA 3 tiba-tiba Boy melihat sosok wanita masuk ke dalam kelas tersebut. Boy pun langsung mengejar sosok wanita misterius itu tanpa mempedulikan teman-temannya di belakang.
Boy masuk ke dalam kelas 12 IPA 3 dan mencari-cari sosok wanita yang tadi ia lihat.
Setelah mencari-cari selama 5 menit di dalam kelas. Ia tidak menemukan sosok wanita itu. Ia hanya melihat jejak kaki berwarna merah seperti darah berhenti tepat di depan meja guru. Boy memperhatikan dengan betul jejak kaki terebut. Ia berpikir mungkin ini adalah jejak sosok wanita misterius itu. Ketika andi sedang sibuk memikirkan jejak kaki tersebut. Tiba-tiba saja jendela kelas terbuka dan tertutup sendiri, desiran angin masuk ke kelas beriringan aroma melati yang khas ketika ia mencium bunga melati yang ada di tasnya. Lampu pun berkedap-kedip tak menentu.
“Woy, siapa lu? Kalau berani tunjukin diri lo” tantang Boy
“Lo pikir gue takut sama lo. Hahaha” teriak Boy dengan lantang
Setelah 10 menit keadaan tampak mengerikan. tiba-tiba keadaan kelas kembali seperti semula. Boy berpikir kalau itu hanya kerjaan teman?-temannya yang tidak suka dengannya. Boy pun pergi keluar meninggalkan kelas tersebut.
Tapi, ketika boy hendak membuka pintu. Alangkah terkejutnya Boy. Karena tepat di hadapannya ada sesosok wanita yang mengerikan sedang menatapnya. Wanita itu langsung mencekik leher Boy dengan Kuat.
—
Tepat 3 bulan yang lalu. Saat itu Boy dengan teman-teman grup bandnya berjalan menyusuri lorong depan kelas 12 IPA 3. Tepat di depan kelas itu lewat juga wanita cantik bernama Melody. Melody adalah gadis cantik keturunan jepang. Ia adalah siswi pindahan dari jepang 2 bulan yang lalu. Boy tertarik dengan Melody sejak kedatangannya di sekolah ini. tapi Melody tak sedikitpun menoleh ke Boy. Melody tahu kalau Boy adalah Cowok play boy di sekolah. Boy juga pernah membuang dan menginjak tugas keterampilan yang ia buat dari kumpulan bunga Melati. Padahal itu adalah tugas yang dipercaya oleh wali kelasnya kepada Melody. Boy juga sering membuat keributan di sekolah. Sekolah tidak berani mengeluarkan Boy. Karena Boy adalah putra dari pemilik sekolah ini.
Saat itu boy menggoda melody dengan mencolek pipi Melody. Seketika itu pula Melody marah dan langsung menampar wajah Boy dengan keras. Boy tidak terima ketika ia ditampar oleh seorang siswi yang jelas-jelas tidak setara dengannya. Ia pun langsung menyeret Melody ke dalam kelas 12 IPA 3 dan langsung mencekik leher melody di atas meja guru. Saat itu hari sudah sore. Dan keadaan sekolah sudah sepi. Hanya da Boy dan teman-teman grup Bandnya. Teman-teman Boy juga takut untuk menolong Melody. Karena mereka diancam oleh Boy. Selain mencekik leher Melody. Boy pun menyuruh Tom untuk mensilet-silet kaki Melody sampai kaki Melody mengeluarkan darah yang banyak. Boy melakukan itu karena pada waktu itu Melody pernah tidak sengaja membuat Boy tersandung dan Jatuh di depan siswa-siswi sekolah. Ia merasa sangat dipermalukan. Sejak saat itulah Boy berencana untuk membalas apa yang dilakukan Melody.
Langganan:
Komentar (Atom)
Entri Populer
Organisasi
Organisasi Siswa Intra Sekolah (disingkat OSIS ) adalah suatu organisasi yang berada di tingkat sekolah di Indonesia yang di...
Siswa dan Siswi MAN 3 Padang Ikuti Program Madrasah Pintar Menulis
MAN 3 Padang (Lubuk Minturun)-Sekitar 30 siswa dan siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang, mengikuti pelatihan jurnalistik dalam Pro...
Find us
Popular Posts
-
OrganisasiOrganisasi Siswa Intra Sekolah (disingkat OSIS ) adalah suatu organisasi yang berada di tingkat sekolah di Indonesia yang di...
-
Siswa dan Siswi MAN 3 Padang Ikuti Program Madrasah Pintar MenulisMAN 3 Padang (Lubuk Minturun)-Sekitar 30 siswa dan siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang, mengikuti pelatihan jurnalistik dalam Pro...




